GORESAN TINTA ELEKTRONIK

SAYA ENY SUSILOWATI. SENANG BERJUMPA DENGAN ANDA :)

21 April.

Selamat Hari Kartini, Indonesia memperingati. 

Di saat semua teman mengucapkan beribu salam pada ibu mengenai peringatan Hari Kartini, lain halnya denganku. Ibuku sudah lebih mendahuluiku. Ibu mengirim pesan. Singkat; sangat singkat. Tapi sebagai anak yang bahkan jauh dari kata membanggakan, aku terenyuh. Pesan itu kiranya seperti ini.

"Selamat pagi Kartiniku, ayo bangun."

Sudah. Hanya itu isi pesan pagi pertamaku, dari ibu. Aku diam, membeku seperti es batu. Siapalah aku ini hingga Ibuku memanggilku Kartini. Tak pantas hati mendengar ucap itu pagi tadi.

Aku, anak semata wayang yang bahkan belum bisa membahagiakan.

Aku, anak yang hanya bisa berkeluh tanpa pernah berpikir peluh.

Aku, anak yang sangat menyebalkan tapi selalu penuh tuntutan.

Aku, anak yang selalu mengaduh dan tak pernah berpikir maju.

Aku, anak yang terkadang membuat malu tanpa berkaca berkaca pilu.

Aku, anak yang selalu dan selalu menjadi kebanggaan walau masih jauh dari mendekati membanggakan.

Sedang Ibuku adalah …

Ibu, yang berjuang mati-matian untuk keluarganya, untukku dan ayahku.

Ibu, yang tak pernah mengeluh sedikitpun atas setiap coba kehidupan.

Ibu, yang tak pernah menuntut anaknya dengan segala tuntutan yang tak masuk akal.

Ibu, yang tak pernah menyalahkanku bahkan saat aku keliru.

Ibu, yang selalu mendukungku walau segala hal yang kucoba kadang tak penuh pertimbangan.

Ibu, yang tak pernah marah bahkan saat masa studiku menuju tahun ke-enam!

Ibu, yang selalu membelaku ketika semua orang bahkan menyelipkan ragu.

Ibu, yang tak henti-hentinya menyanjungku bahkan saat aku membuatnya malu.

Ibu, yang selalu dan selalu mau aku beritahu jika ia keliru.

Ibu, yang selalu sabar akan setiap protesku; yang selalu rendah hati menerima setiap koreksiku.

Ibu, yang hmm tak bisa lagi ku deskripsikan bagaimana sempurna itu.

Banyak individu memaknai Hari Kartini sebagai simbol emansipasi, memperingati kesetaraan, menuntut persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, merayakan kebebasan dan segala hal tentang pengakuan terhadap perempuan. Entah bagian yang mana yang sesuai denganku. Aku setuju dengan pernyataan bahwa perempuan di Indonesia memang masih belum mendapatkan hak yang sesuai dengan yang dibutuhkan. Namun aku juga tidak setuju jika hal tersebut seakan menjadi tameng untuk mendapatkan sesuatu yang berbau spesial dari pembedaan peran dan kontruksi sosial yang sudah terlanjur dikenal. Tentang emansipasi dan kedudukan laki-laki serta perempuan itu sendiri. Menurutku ini bukan tentang bagaimana menjadi sama, bukan tentang bagaimana berteriak meminta pengakuan persamaan tanpa pernah tahu dan mengerti tujuan. Bukan semata tentang itu, aku lebih sepakat jika ini adalah tentang bagaimana kita, para perempuan yang menggapai dan menikmati sama itu dengan cara yang kita mau.

Sedikit bicarakan Ibu.

Ibuku, bukan seperti ibu kebanyakan yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi nan mumpuni. Dengan segala adat tradisi, ibu sangat modern sekali. Ibu terbuka dalam berpikir, ibu menerima setiap apa yang aku kemukakan tentang fenomena masa kini. Ibu sangat memahami bagaimana membagi antara peran sebagai ibu dan peran sebagai pelaku rumah tangga dalam keluarga kami. Ibu tidak pernah memposisikan diri sebagai pendamping ayah, namun ibu juga tak pernah lupa akan segala wajib yang harus dikerjakan. Ibu selalu tahu dan selalu melakukan apa yang Ia mau tanpa pernah pikirkan ini itu. Ibu selalu mau belajar dan selalu haus akan ilmu yang belum pernah Ia temu. Ibu seakan selalu bahagia walau harus menjadi Ibu, walau harus menanggung beban sebagai Ibu. Ia selalu berpesan bahwa untuk menjadi sama dan setara, aku hanya butuh selalu bertanya; aku hanya butuh selalu tahu, aku hanya harus mengedukasi diriku. Karena dengan selalu haus ilmulah, aku akan bisa memilah dan mengenali diriku yang nantinya bisa kuberdayakan sendiri untuk menentukan jalan hidupku. Untuk nantinya aku ingin apa, ingin menjadi apa, serta ingin melakukan apa.

Ibu tidak pernah memerintahku ini itu, harusnya aku seperti ini, baiknya aku seperti itu. Tidak pernah. Ibu selalu membiarkanku bebas, karena bahagia atas sama yang sesungguhnya adalah saat aku bebas menjadi diriku sesuai dengan apa yang aku mau. Aku harus selalu haus ilmu, aku harus selalu haus akan tempat baru, aku harus selalu haus akan bagaimana mempelajari sesuatu; mempelajari ilmu baru.

Ibu dan bahkan Ayah tak pernah mengajarakanku bagaimana membenci dan menyesali satu posisi yang tak membahagiakan. Tidak sama sekali. Ibu dan Ayah selalu selalu menyakinkanku bahwa semua konstruksi sosial itu baru akan nyata jika aku meyakininya. Dan tentang bagaimana kedudukan laki-laki dan perempuan sebagaimana yang diyakini, Ibu dan Ayah terlebih aku hanya menganggapnya angin lalu. Kami hanya yakin pada bagaimana kami dan kita semua harusnya selalu berlomba-lomba untuk mengedukasi diri.

"Karena dengan menjadi pandai, semua orang akan melihatmu. Semua orang akan memperhatikanmu dan mengenalimu bahkan saat kamu tidak pernah teriak menuntut pengakuan. Karena dengan menjadi pandai, semua orang akan menghargaimu dan menghormati setiap pilih yang kamu tuju. Karena dengan menjadi pandai, kamu akan menuju sama dan setara yang selalu dimau banyak orang"

Begitulah jelas Ibu dan Ayah padaku. Begitulah yang selalu Ibu dan Ayah beritahu. Begitulah cara Ibu dan Ayah mengedukasiku. Begitulah caraku mengerti akan beri pemaknaan terhadap peringatan Hari Kartini.

image

"Selamat Hari Kartini. Untuk seluruh perempuan, teruslah takut menjadi bodoh”

Love, Eny :))

You should never give up even when you can’t see the finish line.

—:))

Untukmu, istri terbaik nomer dua setelah ibuku

Menghitung jari, bilangan bulan. Aku baru mengenalmu sejarak itu. Tidak ada istimewa di awal bertemu, tidak ada ekspektasi apapun tentangmu olehku. Kau adalah penggemar kopi. Seorang teman memberikan introduksi. Dan ingin belajar lebih lagi tentang kopi. Hanya itu, sebatas itu tahuku.

Satu persatu minggu berlalu. Aku masih mengenalmu sebatas itu. 24 tahun masih menjadi perkiraan usiaku atasmu sejak awal bertemu. Selera humormu mumpuni, kesabaranmu pun sudah teruji. Satu tingkat lebih baik dari hari kemarin tahuku.

Hingga suatu malam, kita terlibat percakapan tak terduga di sudut halaman luas dengan dua pohon yang selalu menjadi tujuan. Kejutan demi kejutan kau utarakan. Aku diam, mendengarkan. Kau bercerita tentang hidupmu dengan tenang tanpa gentar, walau aku ragu dengan apa yang kau rasakan. Tiba pada satu bagian, kau membuatku tercengang. Aku tak pernah berpikir bahwa kau seorang istri, atau paling tidak, pernah menjadi istri. Aku juga tak pernah berpikir bahwa kau setenang itu menghadapi coba hidupmu. Aku tahu kau penuh kesabaran, tapi kiraku tak sebesar mampu sabarmu mengacuhkan cemooh setiap individu atasmu.

Semua yang aku pikirkan salah besar. Mulai dari usia hingga segala yang kau ceritakan. Perjuangan demi perjuangan kau lakukan tanpa pernah mengeluarkan teriakan. Penuh kasih semua jawab kau berikan pada dia, mereka yang telah meniadakanmu dalam rencana masa depan. Perjalanan hidupmu membuatku semakin diam saat itu, menyaksikanmu. Sedikit mencoba berempati atasmu, tapi sungguh, aku tak kuasa merasa itu. Aku tak sanggup menggapai tahap itu.

Malam itu, aku seperti jatuh dari ketinggian teramat jauh. Kau dan segala perjalananmu membuatku sadar bahwa hidup memang tak perlu selalu lurus untuk sekadar membuat orang lain bangga atasmu. Kau menamparku dengan kerendah-hatian dan dengan segala kehebatanmu. Sungguh, aku tak mampu berujar kata. Tenangmu membuat benteng ketakutanku seakan sirna. Sabarmu mengembalikan mimpi terancang yang sebelumnya pernah aku tinggalkan; pernah aku tiadakan.

Aku lancang, menjadikanmu tokoh inspirasi tanpa permisi.

Maaf, karena catatan yang mungkin tak berkenan untukmu telah menjadi semangat untukku. Terima kasih telah menularkan beribu-ribu kekuatan baru untukku. Dan selamat, kau adalah istri terbaik nomor dua setelah ibuku -sejauh yang aku tahu.

Sebagaimanapun individu bicarakan ini itu, otoritas terbesar tetap padamu. Jalankan hidup sesuai dengan bahagiamu. Tetaplah menjadi perempuan tangguh tanpa berkeluh. Semoga bahagia selalu menyertai setiap langkahmu.

Love,

Eny

Aku, otoritas terbesarku.

Aku adalah kamu yang penuh ego dan selalu butuh dikasih tahu.

Aku adalah kalian yang tahu mana jalan terbaik menggapai impian.

Aku adalah mereka yang lebih dominan menggunakan logika pikiran.

Aku adalah dia yang pandai menyembunyikan perasaan.

Aku adalah kamu yang juga tidak akan suka jika perasaannya dibuat gusar.

Aku adalah kalian yang juga tidak akan nyaman akan segala tuntutan.

Aku adalah mereka yang juga bisa saling sayang tanpa pernah ingin dibandingkan.

Aku adalah dia yang bisa berjuang dengan kaki sendiri tanpa bertopang orang.


Hingga pada akhirnya,

Aku adalah aku yang tak pernah berkekurangan dan selalu berkuasa atas setiap pilihan.

Aku adalah aku yang tahu kapan harus memberi jawab atas pertanyaan.

Aku adalah aku yang selalu berusaha untuk tidak mengeluarkan keluhan.

Dan aku adalah aku yang tahu arah tujuan dan tahu pasti bagaimana caranya bertahan.


Eny, :)))

Ini bukan tentang dia atau mereka yang datang, singgah sejenak dan lalu berlalu.

Hidup itu hanya menyoal memberi dan menerima, ikhlas dan mengikhlaskan, bahagia dan membahagiakan, saling menghargai dan saling menghormati, dan selebihnya adalah saling sepakat.

Hidup adalah tentang dia atau mereka yang selalu ada tanpa pernah menuntut pengakuan. Hidup adalah melulu tentang sebanyak apa kita mampu berbuat baik terhadap sesama. Hidup adalah bagaimana kita bisa berguna untuk sesama dan hidup adalah tentang tidak pernah ada keluhan.

Banyak orang mengatakan bahwa hidup itu hanya persoalan datang dan pergi. Aku tidak sepakat, karena hidup adalah tentang dia dan mereka yang datang dan tak pernah pergi.

Untuk kamu dan kalian yang selalu singgah, terima kasih. Semoga kasih serta sayangku selalu menyertaimu. Semoga Tuhan senantiasa menjagamu untukku.

Dan untuk kamu dan kalian yang sudah berlalu, semoga selalu bahagia dimanapun kamu dan kalian berada.

Eny, :))

Banda Neira. Sebuah pulau yang terletak di kepulauan Banda, Maluku, Indonesia. Tempat ter-paling-aku-ingin-kunjungi-dalam-hidupku. Tak ada alasan selain “Di sini benar-benar sebuah firdaus”, Sjahrir; tulisnya di awal Juni 1936. Awalnya hanya karena kegemaranku memandangi peta, hingga akhirnya aku menemukan pulau Banda Neira dan lalu mencari tahu tentangnya. Indah, indah dan indah! Hanya itu yang ada dalam bayangku jika ditanya seperti apa Banda Neira. Dan entah mengapa, aku meyakini itu dengan pasti.
Hari ini aku bertemu dengan Mba Ary, salah satu penulis buku tentang Banda Neira. Beliau bercerita tentang Banda Neira dengan bahagianya. Beliau menjelaskan bahwa Banda Neira memang surga, Banda Neira adalah pulau dengan penduduk ramah tak terjamah. Banda Neira adalah pulau kaya sumber daya yang penduduknya terpaksa diraskinkan. Banda Neira adalah pulau dengan sejuta pesona yang transportasinya seakan semakin ditiadakan. Banda Neira adalah tempat untuk memperkaya keluarga. Dan Banda Neira adalah segala-galanya untuk sedikit berkaca bahwa Pulau Jawa sebenarnya sudah sangat terlalu ber-kemewahan!
Aku hanya mendengarkan, bertanya seperlunya dan lebih banyak diam untuk selebihnya memikirkan apa yang bisa aku lakukan disana jika nanti aku bertandang. Lalu sepulangnya pertemuan, aku berbincang dengan seorang kawan tentang rencana perjalanan, tentang persiapan dan tentang segala yang ingin dilakukan.
Aku sudah sangat memimpikan Banda Neira sejak sekitar tahun 2010; jauuuuh sebelum aku mengenal Band Indie Banda Neira dan hari ini aku dipertemukan dengan Mba Ary yang notabene penulis, peneliti dan perempuan yang hanya mencari dan berorientasi pada hidup penuh kebahagiaan yang kemudian banyak memberi banyak pesan dan penjelasan serta gambaran tentang Banda Neira. Aku tidak berpikir bahwa ini adalah konsep kebetulan yang selalu orang bicarakan. Tidak sama sekali; aku hanya dan selalu berpikir bahwa Tuhan sedang berbicara padaku tentang kemudahan dalam menggapai impian. Dan Mba Ary adalah salah satu dari sekian karunia atas kemudahan tersebut.
“Ah Tuhan, beri aku umur panjang dan rezeki yang selalu halal agar aku bisa bertemu denganMu di setiap surga yang Kau ciptakan.”
Banda Neira adalah mimpi besarku dan aku berjanji akan mewujudkan itu. Amin

Love,
Eny :))))

Banda Neira. Sebuah pulau yang terletak di kepulauan Banda, Maluku, Indonesia. Tempat ter-paling-aku-ingin-kunjungi-dalam-hidupku. Tak ada alasan selain “Di sini benar-benar sebuah firdaus”, Sjahrir; tulisnya di awal Juni 1936. Awalnya hanya karena kegemaranku memandangi peta, hingga akhirnya aku menemukan pulau Banda Neira dan lalu mencari tahu tentangnya. Indah, indah dan indah! Hanya itu yang ada dalam bayangku jika ditanya seperti apa Banda Neira. Dan entah mengapa, aku meyakini itu dengan pasti.

Hari ini aku bertemu dengan Mba Ary, salah satu penulis buku tentang Banda Neira. Beliau bercerita tentang Banda Neira dengan bahagianya. Beliau menjelaskan bahwa Banda Neira memang surga, Banda Neira adalah pulau dengan penduduk ramah tak terjamah. Banda Neira adalah pulau kaya sumber daya yang penduduknya terpaksa diraskinkan. Banda Neira adalah pulau dengan sejuta pesona yang transportasinya seakan semakin ditiadakan. Banda Neira adalah tempat untuk memperkaya keluarga. Dan Banda Neira adalah segala-galanya untuk sedikit berkaca bahwa Pulau Jawa sebenarnya sudah sangat terlalu ber-kemewahan!

Aku hanya mendengarkan, bertanya seperlunya dan lebih banyak diam untuk selebihnya memikirkan apa yang bisa aku lakukan disana jika nanti aku bertandang. Lalu sepulangnya pertemuan, aku berbincang dengan seorang kawan tentang rencana perjalanan, tentang persiapan dan tentang segala yang ingin dilakukan.

Aku sudah sangat memimpikan Banda Neira sejak sekitar tahun 2010; jauuuuh sebelum aku mengenal Band Indie Banda Neira dan hari ini aku dipertemukan dengan Mba Ary yang notabene penulis, peneliti dan perempuan yang hanya mencari dan berorientasi pada hidup penuh kebahagiaan yang kemudian banyak memberi banyak pesan dan penjelasan serta gambaran tentang Banda Neira. Aku tidak berpikir bahwa ini adalah konsep kebetulan yang selalu orang bicarakan. Tidak sama sekali; aku hanya dan selalu berpikir bahwa Tuhan sedang berbicara padaku tentang kemudahan dalam menggapai impian. Dan Mba Ary adalah salah satu dari sekian karunia atas kemudahan tersebut.

Ah Tuhan, beri aku umur panjang dan rezeki yang selalu halal agar aku bisa bertemu denganMu di setiap surga yang Kau ciptakan.”

Banda Neira adalah mimpi besarku dan aku berjanji akan mewujudkan itu. Amin

Love,

Eny :))))

Ini adalah video manajemen bencana oleh aku, Fanbul, Ibnu, Anin dibantu Fina, Tonny, Dodi dan teman-teman lain. Video ini juga pernah diikutsertakan dalam Jenesys Youth Competition for Disaster Education. Mungkin ada dari kalian yang butuh tau tentang harus melakukan apa saat terjadi erupsi gunung berapi. Yuk bisa dilihat dan semoga berguna.

Dan sedikit bercerita, ….

Tinggal di Yogyakarta memang membuatku semakin sedikit terbiasa dengan adanya perilaku-perilaku alam yang tak biasa. Aku seakan sudah mulai terbiasa dengan adanya gempa dan segala runtutan aktivitas meletusnya gunung berapi. Dan semua hal tersebut membuatku selalu siaga dan siap sedia; aku seakan sudah mengerti harus melakukan apa jika terjadi apa dan beberapa hal preventif lain yang harus dilakukan sebelumnya.

Aku yakin, semua orang yang tinggal di Jogja pun mengerti dan memahami hal tersebut dengan sangat. Semua itu karena lagi-lagi (menurutku) Jogja mengajari kami untuk bisa , mau, dan lebih perduli.

Awalnya aku sempat heran, mengapa jika terjadi satu hal yang berhubungan dengan perilaku alam tak biasa, para warga enggan untuk dievakuasi. Para warga enggan untuk pergi, enggan untuk meninggalkan tempat hunian walau iming-imingnya adalah keselamatan. Hingga akhirnya, setelah hampir 6 tahun aku benar-benar menyadari bahwa mereka sudah terinstitusi. Mereka sudah sampai di tahap dimana “Ya rumahku disini, jika ini hancur; habislah aku”. Hmm mungkin salah atau benar sudah pasti ada dalam persepsi masing-masing dari kita jika mendengarnya. Hanya saja berbicaraperihal terinstitusi, …. aku seperti sedikit mengamini. Dan mungkin, akupun sudah terinstitusi disini, :))

Ah terima kasih Jogja untuk segala baikmu; untuk segala nyamanmu yang selalu membuat orang yang enggan berpaling darimu.

Love,

Eny :))))

"Saat kau punya rumah kedua, saat itu pula kau takkan pernah melupakannya", Anies Baswedan; 2012 

Aku sepakat. Batu Kandik, Nusa Penida adalah rumah ke-empatku setelah Jakarta, Yogyakarta, Pulau Pemping; Kepulauan Riau. Seberapapun dan bagaimanapun Nusa Penida, aku akan tetap kembali kesana. Suatu hari nanti, aku akan menginjakkan kakiku kembali di tanah itu, aku akan menghirup kembali aroma desa itu, dan aku akan bertemu kembali semua keluarga yang selalu ingin kutuju; semua keluarga yang selalu ramah menyambutku, semua keluarga yang mengajariku apa itu arti ‘hidup berkecukupan’. Sampai kapanpun pesonamu takkan pernah hilang dari ingatan, Nusa Penida.

Penuh rindu aku tuliskan,

Eny

MEDITASI #1

Ini adalah kali pertama aku bermeditasi.

Awal ceritanya adalah saat aku tiba-tiba merasa rindu dengan salah dua sahabatku; Alam & Made (Bli). Aku hubungi mereka dan lalu kami sepakat untuk bersua. Mereka adalah dua orang yang aku tak bisa bohongi jika aku punya masalah. Mereka berdua tahu bagaimana aku dan bagaimana jalan pikirku. Mereka adalah rumah yang membuatku selalu ingin berbagi kisah dan berkeluh kesah. Aku beri gambaran; Bli adalah seorang yang tenang dan penuh kedamaian. Tidak ada yang bisa aku tutupi darinya sedikitpun, tidak menyangkut pikiran ataupun emosional dan bahkan spiritual. Alam; walaupun dia suka bertualang, aku rasa dia lebih cocok disebut sebagai aktivis pergerakan. Memang tidak terinstitusi, tapi dia sudah sangat berjuang untuk kemakmuran Indonesia dengan caranya. Dia adalah tempatku bertukar pikir perihal politik dan potret kehidupan sosial yang biasanya berujung pada, “Iya, kita harus melakukan sesuatu nih. Kita harus bla bla bla” yang tentunya semua kegiatan tukar pikir itu menumbuhkan semangat baru bagiku acap kali bertemu. Mereka adalah salah dua dari sekian partner terbaikku.

Hari ini kami bertemu setelah sekian bulan kami sibuk dengan urusan individu. Seperti biasa, kami berbincang ini itu, kami merumuskan sesuatu dan kami menganalisis satu persatu perilaku, kami juga utarakan mimpi dan tuju dan tak luput, kami bercerita segala sesuatu tanpa kenal waktu. Ya, bertemu dengan mereka itu seperti suatu hal yang harus dibayar mahal, jadi mana puas jika hanya sebentar :)

Dalam setiap pertemuan kami, refleksi diri sudah menjadi agenda pasti. Entah mengapa, kami selalu suka melakukan itu; terlebih aku. Dalam pertemuan ini, aku bercerita tentang kegusaranku akan sebuah ‘perang terhadap diri sendiri’ku. Oke, aku sedikit melirik ke belakang. Aku merasa setahun terakhir adalah satu tahun paling membahagiakan dan paling memberi pelajaran dalam hidupku. Bagaimana tidak, aku mendapat bahagia dari Tuhan atas segala nikmat baik dan buruknya dan aku pun diberi kesempatan untuk bebas menjadi salah dan benar.

Aku juga merasa bahwa setahun belakangan ini aku benar-benar seperti raja untuk diriku sendiri, aku otoritas tertinggi dalam hidupku; tidak ada yang mengganggu gugat itu. Aku seperti seorang pejuang yang tak pernah perduli sekitar, aku berjalan terus ke depan untuk mengejar kebahagiaan. Hingga sampai pada satu titik, aku merasa kehilangan dan merasa bersalah pada keadaan sekitar yang tidak aku perdulikan. Nyatanya aku kurang siap untuk menjadi pejuang tanpa kepedulian.

Aku seperti dihantu penyesalan, dihantu perasaan salah, dihantu perasaan selalu menyalahkan diri sendiri. Ah ini bukan aku sekali. Aku gusar, dan Bli tentu menangkap gusar itu. Lalu dia mengeluarkan jurus Psikologinya untuk menganalisisku dan untuk mengetahui apa yang sedang aku rasakan. Tak sulit untuknya mengerti apa yang sedang terjadi padaku, Bli adalah orang yang sangat handal untuk itu. Bli hanya berpesan padaku seperti ini,

Coba deh kalo lagi ngerasa bersalah, sering-sering ngomong ke diri sendiri kaya gini, “Apapun yang telah aku lakukan, apapun yang aku alami; pintu hatiku selalu terbuka untukku”

Karena menurutnya sahabat terbaik kita yang mengerti kita lebih dari siapapun ya diri kita sendiri. Hmmm sejenak aku sepakat dan setelahnya, aku mengamini itu.

Lalu kami kembali bercerita tentang sesuatu yang lain, yang banyak lain. Sampai akhirnya Bli mengajakku dan Alam untuk bermeditasi. Weeeew, di bayanganku meditasi itu seperti kegiatan yang sulit dan menakutkan. Mengosongkan pikiran, menenangkan jiwa dan lain-lain yang tentunya tak pandai aku lakukan. Tapi ternyata aku salah selama ini. Meditasi bukan kegiatan mengosongkan pikiran karena berpikir itu adalah kegiatan yang tidak bisa dikontrol untuk bisa atau tidaknya dilakukan, melainkan lebih ke arah kegiatan bathin; ia alamiah. Jadi meditasi lebih ke arah menenangkan bathin dan meredam pikiran buruk serta memunculkan pikiran baik, melepaskan segala kenangan yang masih atau sedang dan selalu terngiang-ngiang di pikiran. Semacam itulah; koreksi jika aku salah :)

Bli hanya memberi perintah untuk duduk tegak dengan posisi kaki kanan berada di atas kaki kiri (seperti sila tapi tidak disilangkan) dan tanga diletakkan di atas kaki dengan posisi tangan kanan di atas tangan kiri. Alasannnya adalah kesehatan; agar tidak kesemutan. 

image

Foto ini aku ambil dari http://artikelbuddhist.com/wp-content/uploads/2011/05/Buddha17.jpg

Lalu aku dan alam diminta untuk memjamkan mata dan mencari posisi duduk yang nyaman. Lalu bli menjelaskan lirih bahwa apapun yang aku pikirkan atau muncul dalam pikiran, biarkan. Mungkin itu kenangan atau bentuk kesalahan yang masih terngiang jelas di ingatan. Aku menuruti, aku mencoba untuk fokus dan tiba-tiba muncul gambar tali yang saling mengikat, lalu cuplikan orang-orang terdekatku. Lalu titik terang dan lalu cahaya terang dan kemudian aku memutuskan untuk bangun. Mungkin sekitar 10-15 menit aku bermeditasi. Saat aku bangun, ternyata Alam belum. Dia masih dalam posisi tenangnya. Bli sengaja membimbingnya untuk terus dan terus hingga akhirnya tertidur.

Setelahnya Bli bertanya, “Bagaimana rasanya?” dan aku menjawab bahwa aku sangat nyaman dan tenang. Berkebalikan dengan gusar yang sebelumnya aku rasakan. Walau hanya sebentar, aku merasa sedikit percikan kedamaian. Aku merasa seperti sejenak waktu berhenti dan memberiku kesempatan untuk menghela nafas panjang sekaligus menikmati segala bahagia tanpa pusing memikirkan beberapa soal.

Berbeda denganku, Alam seperti semakin takut setelah bermeditasi. Dia malah seperti dihantu perasaan ragu dan perasaan tak mempercayai itu. Rasa gusarku sepertinya secara tidak sengaja berpindah ke Alam. Dia bercerita panjang lebar tentang pengalaman meditasinya dan Aku juga Bli hanya mendengarkan dengan seksama. Aku khususnya, sempat bertanya kenapa meditasi tidak membawa ketenangan untuk Alam? -___-  Alam kembali bercerita dan ternyata dalam meditasi tadi dia tidak sepenuhnya menenangkan jiwanya. Dia masih mengontrol dan mencoba mengendalikan pikirannya walau pada akhirnya dia pun juga merasa sedikit rileks dengan meditasi tersebut.

Aku sebenarnya tidak paham apakah meditasi kali pertamaku ini bisa dikatakan berhasil atau tidak, yang jelas aku merasa sedikit lebih rileks dari sebelumnya. Aku merasa hal-hal yang tidak bisa dan tidak ingin aku ceritakan seakan memudar dengan sendirinya. Seperti secara tiba-tiba aku merasa mendapat kekuatan dan tamparan untuk mau mengikhaskan segala salah yang telah aku lakukan.

Karena sebenarnya aku sadar, yang membuat kita tidak merasa tenang adalah persepsi kita akan diri kita sendiri. Kita selalu terjebak akan definisi yang kita buat sendiri; kita telah terdefinisi bahkan oleh diri kita sendiri. Dan itu masalah krusial setiap manusia sebenarnya, tak terkecuali aku. Aku memiliki kecenderungan untuk menyalahkan diriku; baik memang; karena jadi lebih suka berefleksi dan mengintrospeksi diri ketimbang mencari salah atas perilaku orang lain, namun tidak jarang pula itu menjadi suatu hal buruk yang perlu dihindari. Tidak menguntungkan sama sekali. Aku jadi semakin terdefinisi.

Huaa, dan meditasi ini membuatku matu tidak mau untuk menyadari itu dan beruntungnya aku, aku memiliki berjuta-juta teman baik yang selalu menyadarkanku untuk bisa kembali berdamai dengan diriku sendiri. Untuk bisa merelakan salah dan keliru yang ada dalam hari yang telah lalu; untuk mau selalu berpikiran baik terhadap diriku sendiri. Dan untuk tidak berpusing-pusing menerka apa yang belum terjadi. Karena seperti Float bilang,

"Let’s just celebrate today. Because tomorrow is too far away"

Ya, karena hidup memang selalu menyoal hari ini. Bukan hari yang sudah lalu atau hari dimana masa depan menunggu.

Dan sekali lagi, tak bosan-bosannya aku berucap syukur atas bahagia yang selalu Tuhan limpahkan padaku dengan cara tak terduganya; termasuk dengan mengirimkan orang-orang terbaik untuk menyempurnakan salahku dan untuk membuatku bahagia di setiap harinya.

*Mari bersyukur untuk setiap sahabat yang dengan sengaja dikirim Tuhan untuk kita. Karena tanpa mereka, kita bukanlah apa atau siapa.

Meditasi kali pertamaku menyenangkan, aku sangat menikmati. Aku berjanji akan melakukannnya lagi. Bagaimana denganmu? :)))

Love, Eny.

SoundCloudYK #CineMarch

Jogja emang gudangnya segala ide, kreativitas dan komunitas. Udah, itu aja cukup rasanya untuk menggambarkan Jogja.

Betapa bersyukur aku diberikan kesempatan untuk tinggal di kota ini, di kota seramah dan sederhana ini -walau nyatanya sekarang ramah dan sederhana itu sudah tidak seperti dulu-. Dan betapa bahagianya pula aku bisa mengenyam pendidikan dan memiliki banyak teman baik disini. Ahh Tuhan seakan selalu memberiku nikmat atas segala cara tak terduganya.

Walau jauh dari hingar bingar kemewahan, namun kota ini tak pernah sepi perkumpulan. Setiap hari selalu saja ada acara yang sangat sayang jika dilewatkan. Contohnya hari ini, @SoundCloudYK menggelar satu acara bertajuk #CineMarch. Acara tsb diadakan di Yogyatorium Dagadu. Ramai dan meriah menurutku. Bukan meriah dengan fasilitas serba mewah, tapi meriah karena semua orang yang hadir di acara ini dipenuhi suka cita dan antusias tak terhingga.

Acara ini sebenarnya seperti acara gathering teman-teman yang memiliki akun SoundCloud ataupun siapa saja yang suka mendengarkan SoundCloud, tapi juga tidak tertutup untuk mereka yang bahkan tidak tahu SoundCloud. Pokonya intinya, ini adalah acara bahagia dan penuh suka cita; udah itu aja. Dan untuk gathering kali ini temanya #CineMarch; jadi para penampil wajib membawakan lagu OST film gitu. Seruu! Langsung jatuh cinta seketika juga sama yang bikin ide dan konsepnya :)

Acara dimulai pukul 18.30 sebenarnya namun aku baru datang sekitar pukul 20.30; aah aku melewatkan banyak penampil-penampil bagus. Aku datang sewaktu Mas Anang Batas mengumandangkan lagu-lagu medleynya.

lalu dilanjut dengan beberapa penampil yang super duper keren sebelum penampil yang dinanti-nanti tiba giliran (Ketzia). Entah siapa Ketzia ini awalnya (batinku) tapi kemudian; taraaaaa aku suka. Suara mba Ketzia syahdu banget! Dan Ketzia juga sukses membuat acara jadi semakin meriah dengan siul-siul beberapa pria yang terkesima oleh kecantikannya. Gimana engga, nih lihat :)

Dan Ketzia juga membagikan beberapa CD Singlenya. Dibagikan secara kuis gt, dan pemenang kuisnya diantaranyaa adalah Fanbul, Tonny, dan Aku. Yaaaah dia lagi, dia lagi. Dua orang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah sahabat baikku. Gitu deh emang kalo di Jogja, apa-apa konco dewe :)

Ini Tonny

Ini Fanbul

Ini mas Tigor

Dan ini aku

Huaaa, aku gabisa lama juga. Jadi setelahnye beberapa saat, aku pulang. Tapi yang jelas, terima kasih SoundCloudYK dan Yogyatorium yang udah bikin acara super duper kecee. Terima kasih :)) Sukses selalu.

Ini semua anak komunitas campur-campuur :))

Sekali lagi, terima kasih :)))

Love, Eny :)