GORESAN TINTA ELEKTRONIK

SAYA ENY SUSILOWATI. SENANG BERJUMPA DENGAN ANDA :)

#3

Cinta harus jatuh pada tuju akurat, maka berusaha dan berdoalah dengan cara yang tepat.

Teman bilang, cinta itu tidak boleh percaya mitos. Mencari orang berbeda supaya ia bisa melengkap, itu gila. Sebahagian orang berkata ‘iya’.

Karena cinta bisa memudar, oleh sebabnya ia perlu ditopang kelogisan.

Karena cinta mungkin bisa hilang, tapi bisa jadi kelogisan yang akan menuntunnya pulang.

Jika memang benar begitu adanya, tentu aku menaruh harap bahwa kau adalah separuh logis yang akan segera pulang. Yang sedang kubiar-ikhlaskan bertandang pada siapa saja yang kau temu dalam perjalanan.

Yogyakarta, 31/07/14

Jessy.

Tentang cinta. Mengapa iya butuh ke-logis-an.

Percakapan acak salah satu grup di alat komunikasi elektronikku. Di malam minggu yang seharusnya syahdu.

"Jangan percaya mitos hollywood bahwa jodoh kita adalah orang yang berbeda dengan kita; sehingga bisa saling melengkapi. Karena riset ilmiah membuktikan bahwa rata-rata orang tertarik karena punya banyak kesamaan"

"Temanku bilang : Kalau kit atakut gak bisa bisa kasih makan pasangan setelan nikah, berarti kita meremehkan janji dan kekuasaan Tuhan. Ga ada deh Tuhan membiarkan orang kelaparan karena nikah, asal mau berusaha aja loh"

"Selama ini kita terlalu banyak nonto film. Cowok nerd tiba-tiba karena pandangan pertama bisa jatuh cinta sama cewek gahul. Bohong itu"

"Berpasangan sama orang yang berbeda itu kemungkinannnya kecil. Proses adaptasinya akan lama kalau bedanya terlalu gede dan seringkali menyakitkan. Nyari jodoh itu harus yang berimbang; intelektualitasnya, seleranya. Itu logis"

"Cinta itu cuma reaksi kimia (emosional) yang bertahan paling lama 4 tahun, setelah itu pertimbangan-pertimbangan logis kok. Tapi ya tetep cinta juga ga boleh habis"

"Pernah gak sih kalian mengalami nangis karena putus cinta sama seseorang tapi beberapa bulan atau tahun kalian ketawa kalo inget-inget moment itu? Kok bisa ya? Kok bisa ya?"

Dan lalu, ya ‘semua akan nikah pada waktunya’ Bwahaha.

Tentang cinta dan kita.

#2

Tahu kenapa aku enggan berlalu?

Karena bersamamu, aku belajar banyak! Karena bersamamu, aku belajar untuk mengikhlaskan. Karena bersamamu, aku belajar untuk membuat kesempatan. Dan karena bersamamu, aku belajar untuk lebih bijak dalam mengambil keputusan.

Yogyakarta, 12/07-14

Jessy.

#1

Aku rindu.

Sudah hampir satu tahun berlalu. Kucoba selalu tepis yakin itu, Buntu.

Aku tetap merindu.

Kucoba hilangkan perasaan. Sial, semakin menjadi datang.

Ingin rasanya aku pergi berteriak pada Tuhan, bertanya. “Mengapa ada makhluk yang Kau ciptakan sedemikian biasa tapi mampu membuatku merasa paling sempurna?”

Tapi aku yakin Tuhan hanya akan diam. Menatapku seakan aku adalah anak kecil yang hanya butuh mainan.

Tak kuhiraukan. Sesal akan rindu itu aku utarakan. Kepadamu, aku sampaikan rinduku. Pun aku minta maaf jika rindu itu telah lancang mengganggumu.

.

Aku mungkin buta rasa. Anggap saja iya.

Aku sudah tidak lagi mampu melihat benar atau salah atas tindak yang sedang aku pertaruhkan.

Aku juga tak perduli betapa coba sedang menungguku di depan jika aku terus berjalan.

Semua orang bilang jangan. Iya, aku tahu jangan. Tapi siapa berani beri aku jaminan?

Ini menyoal kebahagiaan! bukan permainan yang jika kalah bisa seenaknya aku ulang mainkan.

Sekali lagi, ini menyoal kebahagiaan. Dan rindu yang selama ini aku tahan.

.

Dan lalu, aku memilih tetap bertahan. Atau setidaknya, masih bertahan.

Walau aku tahu, aku bertahan pada posisi yang tidak bisa memberiku jaminan.

Walau aku tahu bahwa aku bisa saja pergi meninggalkan.

Karena aku tahu, selalu ada tuju lain yang menungguku dengan sabar.

Yogyakarta, 12/07/14

Jessy.

Tentang aku yang menua dan kau yang tak pernah lupa. Laku bisa ditipu, tapi detak jantung tak pernah keliru. Aku pandai bicara lupa, namun rindu selalu menjerit bila sedetik ia tak lihat muka; walau hanya, maya.

—Eny ..

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang tidak mumpuni. Karena mimpi memang butuh selalu tinggi

—:))

Eny Susilowati

Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada

                                “Perdamaian; Saat Kita Sepakat Untuk Berbeda”

Menyinggung tentang perdamaian, tentu tak akan pernah terlepas dari berbagai macam perbedaaan.  Perbedaan yang beragam, seperti perbedaan ras dan suku, agama, serta perbedaan sudut pandang. Sebagai negara yang multikultural, Indonesia tentu memiliki keberagaman dalam setiap aspek kehidupan. Dalam sektor budaya, keberagaman ras dan suku di Indonesia membuat Indonesia memiliki berbagai macam jenis kebudayaan, seperti lagu daerah, tarian daerah, baju adat, serta adat istiadat yang tentunya berbeda-beda. Namun di sisi lain, wilayah Indonesia yang terpisah atas pulau-pulau menyebabkan adanya ketidakmerataan pembangunan nasional di setiap daerah. Dapat kita lihat perbedaan yang sangat signifikan antara pembangunan di Pulau Jawa dengan pembangunan di pulau lainnya. Sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa kesenjangan tersebut akan menumbuhkan kecemburuan sosial yang pada akhirnya melahirkan sikap chauvinisme dalam diri setiap bangsa Indonesia. Indonesia juga merupakan negara yang sarat akan konflik dan kekerasan. Selain keberagaman sebagai faktor, hal tersebut dikarenakan semangat nasionalisme bangsa Indonesia yang sebenarnya masih sangat abu-abu. Persatuan dan kesatuan yang selalu dikumandangkan akan tetap menjadi wacana jika tidak ada realisasi hak yang sama untuk setiap bangsa Indonesia.

Di sisi lain, dengan segala keterbatasan, perdamaian masih menjadi tujuan bangsa Indonesia. Damai merupakan persyaratan mutlak bagi setiap manusia yang menginginkan rasa aman. Tanpa itu, tidak mungkin seseorang atau sekelompok orang, baik dari unit terkecil dalam masyarakat ataupun bahkan dalam negara, dapat memenuhi kebutuhan sosial, politik dan ekonominya dengan baik. Saya menganalogikan perdamaian seperti permainan sepak bola; memainkannya supaya senang, mempelajari tekhniknya supaya mengerti, mempererat tali silaturahmi, serta menjunjung tinggi kejujuran dalam setiap kompetisinya, dan yang paling penting adalah semua orang bisa memainkannya. Sama halnya seperti perdamaian; diciptakan agar setiap individu yang terlibat bisa merasakan senang, aman, bahagia dan setiap individu berhak merasakannya. Dalam proses menuju perdamaian pasti banyak ditemukan perbedaan. Sebagian besar individu menganggap bahwa perbedaan adalah jurang dan hambatan tanpa pernah terpikir bahwa perbedaan sebenarnya adalah alat untuk mencapai persatuan, kesatuan, dan perdamaian itu sendiri. Hal tersebut dikarenakan perdamaian tidak akan ada arti jika tidak ada perbedaan di dalamnya, dan perdamaian akan bisa terwujud jika kita memang sepakat untuk berbeda. Perdamaian juga tidak melulu hanya dengan orang lain, tetapi yang terpenting, kita harus bisa berdamai dengan diri sendiri karena berdamai dan mengakui kesalahan diri sendiri jauh lebih sulit daripada mencari kesalahan orang lain.

*tulisan ini dulu ditulis guna melengkapi syarat untuk mengikuti Peace Camp; Bee yourself 1-5 Juni 2011 yang diselenggarakan oleh Komunitas Peace Generation.

Karena hidup hanya harus kuat

Saat aku menuliskan ini, aku sedang ada di perasaan dimana aku sangat bersyukur dengan apa yang yang kumiliki. Tidak kukurangi dan tidak kulebihkan sama sekali. Aku selalu bersyukur akan ‘apa, siapa, mengapa dan kenapa’ yang mengisi setiap detik perjalanan hidupku, terlebih orang tuaku.

Aku adalah individu yang sangat bahagia, jika itu menyoal kehidupan keluarga. Orang tuaku sempurna. Mereka mendidikku dengan cara teramat sempurna. Mereka tidak menjadikanku benar ataupun salah, mereka tidak menjadikanku kurang dan meminta melainkan menjadikanku selalu bebas dan bahagia.

Aku lupa bagaimana rasanya saat mereka marah; karena tidak pernah. Aku juga lupa bagaimana rasanya saat mereka menuntutku dengan segala tuntutan wajar setiap orang tua. Kubuka ingatan tapi tak kutemukan. Pun aku bahkan meragukan apakah aku pernah merasa berada pada saat dimana mereka inginkan aku untuk menjadi apa yang mereka rasa benar. Sungguh aku ragukan!

Mereka adalah dua sempurna yang selalu memberiku bahagia. Yang kehormatannya akan aku jaga bahkan dengan nyawa. Mereka adalah alasan aku bertahan, berdamai dengan segala coba kehidupan. Mereka adalah kekuatan terbesar, yang tak bisa ditukar sekalipun itu dengan ribuan tawaran kesempurnaan.

Dengan mereka, aku bangga dan bahagia.

Namun, berbeda denganku, aku mendapati beberapa teman dengan cerita istimewa lain perihal keluarga.

Ada teman yang bercerita bahwa ia rindu sakit, karena sakit membuatnya merasa memiliki keluarga. Karena hanya dengan sakit, ia bisa menjadi anak seutuhnya. Ada pula teman yang becerita tentang betapa bahagianya ia dengan uang yang diberi demi mengganti waktu luang orang tua. Di lain waktu, ada pula teman yang bercerita jika ia membenci uang pengganti kebahagiaan yang diberi orang tua saat salah satu dari mereka hendak meninggalkan. Lalu, ada pula teman yang bercerita harus menjadi anak dengan orang tua terpisah rumah bahkan hanya untuk mengurus kerja. Pun ada teman yang juga bercerita tentang ia, anak yang rindu rasanya bahagia memiliki keluarga.

Pernah pula aku menemukan teman dengan orang tua dengan prestasi yang sungguh membanggakan namun ia sendiri yang justru tidak memberikan penghargaan. Aku tanya kenapa, hanya iri yang keluar yang sebagai jawaban. Pun aku pernah menemukan teman yang muak dengan segala tuntutan orang tua yang walau semua ditujukan untuk kebahagiaan masa depan. Lebih jauh, aku juga pernah bertemu dengan teman yang hingga kini tak tahu siapa dan bagaimana rupa ayah juga rupa ibu.

Tak jarang, aku menemukan beberapa teman merasa iri hati dengan apa dan bagaimana keluargaku berelasi. Saat mereka bertanya bagaimana rasanya menjadi aku, aku hanya bisa menjawab "Rasanya jadi aku ya sama seperti rasanya jadi kamu". Karena jujur, aku merasa aneh dengan pertanyaan seperti itu. Dengan segala bahagia yang tercipta dalam keluargaku, bukan berarti semua itu lantas serta merta menjadi begitu saja. Ayah serta ibu terlebih aku sudah melalu jalan berliku hingga kini bisa menjadi satu yang banyak orang mau. Saat aku bercerita tentang liku tersebut, tak jarang teman menyangkal dengan pernyataan, "Tapi kamu ga pernah jadi aku, kamu gaktau gimana rasanya jadi anak yang bla bla bla". Ya, aku memang tak pernah menjadi temanku begitupun ia tak pernah menjadi aku. Tapi satu yang selalu aku tahu, bahwa dengan menjadi siapapun, yang aku butuhkan hanyalah selalu bersyukur. Tak perduli bagaimanapun kondisi saat itu.

Aku pun pernah merasa menjadi anak yang merasa bahwa keluarga temanku lebih membahagiakan dari keluargaku. Tapi secepat kilat kutampik rasa iri itu. Untuk apa aku merasa iri? Toh setiap keluarga, masing-masing dari keluarga itu pasti memiliki cara istimewa tersendiri untuk mencapai bahagia. Dengan tidak menjadi sahabat, ibuku tetap ibu terhebat. Dengan tidak menjadi pengajar, ayahku tetap inspirasi terbesarku untuk selalu menuju pintar. Lalu, buat apa aku iri? Buat apa memikirkan dan menginginkan sesuatu milik orang lain yang aku sendiri bahkan bisa mendapatkan yang lebih jika aku mau sedikit saja mensyukuri setiap yang aku miliki.

Karena aku juga Ayah serta Ibu merasa bahagia dan selalu suka cita, jadilah keluarga kami adalah keluarga paling bahagia dan sempurna. Karena bahagia dan sempurna hanya lahir dari kesadaran kita untuk sekedar mendefinisi. Karena bahagia dan sempurna adalah definisi yang kita buat dan kita yakini dengan pasti. Karena bahagia dan sempurna itu tidak akan pernah sama pada tataran definisi. Jadi, bahagialah! Definisikan diri kita sebagai individu bahagia, dan lalu jadilah kita seperti apa yang kita rekayasa. Berhentilah mengeluh dan berhentilah merasa bahwa kita tidak bahagia, karena bahagiapun tidak pernah bisa sama segala rupa.

Karena hidup hanya harus kuat. Karena hidup hanya mengenal bagaiamana caranya berjuang. Dan karena hidup hanya untuk selalu bebas dan berbahagia.

Eny :))

Kepada kamu, teman baikku.

"Hai kamu; yang berada ribuan kilometer dari tempatku berada saat ini, bagaimana kabarmu?"

Kamu adalah teman baikku yang kini terpisah jarak serta waktu; yang melalu hidupku sambil lalu. Hari ini adalah hari bahagiamu, hari dimana hidup kembali menggenapkan usiamu.

Kamu sedang tidak berada di rumah sewaanmu, aku tahu; aku selalu mencari tahu. Kamu sedang mengikuti satu pertandingan olahraga kesukaanmu, di kota dengan jarak tempuh 4 jam perjalanan dari rumahmu. Di kota dengan satu menara yang selalu menjadi tuju.

"Bagaimana kabarmu?" Kembali kutanyakan itu.

"Bahagiakah kamu saat ini? Rindukah kamu padaku?" Kutambah pertanyaanku.

"Hai kamu; yang pintar membaca kodeku. Masihkah kamu dengan keahlian itu?"

Aku ingat bahwa kamu adalah cerminan; pun lebih dominan mengunakan akal pikiran. Aku ingat bahwa kamu juga suka bepergian, pun menyukai kesederhanaan. Aku juga ingat bahwa kamu penuh kepedulian, menjunjung tinggi pertemanan, penuh perencanaan, juga peka akan perubahan.

Kamu adalah lawan bicara yang menyenangkan. Semua tutur katamu sopan, juga penuh keyakinan. Segala pencapaianmu membanggakan. Ego dirimu bisa kau kesampingkan jika itu menyangkut kesejahteraan dan keharmonisan, walau tak jarang suasana hatimu sulit sekali kamu kendalikan.

Kamu adalah teman baik yang mampu mendekatkanku pada mimpi dan Penciptaku. Itulah sebab, aku selalu haus perkembanganmu. Aku selalu haus informasi tentang siapa saja temanmu, apa saja yang kamu lakukan, bagaimana suasana hatimu, apa saja yang kamu kerjakan serta kapan kamu akan pulang. Aku hanya selalu ingin memastikan bahwa kamu dalam keadaan aman dan dengan sehat berkecukupan.

"Hai kamu; yang sudah kukenal bahkan sebelum pertemuan, masihkah kamu penuh dengan kejutan?"

Kutanyakan karena aku cukup merindukan.

"Hai kamu; yang selalu bijaksana, masihkah kamu ingin melukis penuh tanganmu dengan tinta tak terhapuskan jika kelak sudah mapan?"

"Hai kamu; yang selalu mendengarkan tapi gegabah dalam menarik kesimpulan, masihkah kamu alergi ikan-ikanan?"

"Hai kamu; yang selalu penuh perjuangan, masihkah kamu benci dengan si minyak ajaib yang bisa menghangatkan?"

"Hai kamu; yang memakai jam di tangan kanan, masihkah kamu ingin menuntaskan pendidikanmu di Negara Jerman?"

"Hai kamu; yang tak gemar membaca tapi pintar berkata, bagaimana program penggendutan badanmu? Apakah semua berjalan dengan lancar?"

"Hai kamu; yang kini sudah tak kutahu lagi seperti apa, bagaimana kondisimu? Masihkah aku lebih kecil darimu?"

"Hai kamu; yang pernah memotong sendiri poni dengan tangah jahilmu, bagaimana rupamu kini? Apa kiranya aku masih mengenali?"

"Hai kamu; teman dekat teramat singkat yang kini bertambah usia, Selamat menjadi tua! Terima kasih telah pernah berbagi kasih. Terima kasih telah banyak memotivasi dan memberi inspirasi. Terima kasih telah menularkan semangat baik dan berani. Tetaplah menjadi yang terbaik, tetaplah pada jalan yang baik. Semoga kamu selalu dikelilingi orang baik, semoga kamu selalu dipasangkan dengan yang terbaik, dan semoga semua mimpi yang telah kamu rencanakan dengan baik bisa berjalan dengan cara yang baik di waktu terbaik"

"Hai kamu; yang kini sudah tidak lagi muda pada tataran usia, berbahagialah. Bersyukurlah atas setiap teman baik yang selalu menemanimu dalam semua perjalanan menggapai impian. Tetaplah selalu rendah hati. Semoga hidup selalu menuntunmu pada tempat dan waktu dimana bahagia berada dan tercipta."

Yogyakarta; 26 April 2014

Jessy.

Apa ini juga serta merta ada dalam imaji saat kusebut kata ‘Bali’?


…
Foto oleh Reny.
Provinsi Bali; September 2013

Apa ini juga serta merta ada dalam imaji saat kusebut kata ‘Bali’?

Foto oleh Reny.

Provinsi Bali; September 2013